InSo

Militansi Kelompok Moderat

In Agenda, Kliping on November 12, 2008 at 4:48 am

Militansi Kelompok Moderat: Pengalaman terbaik promosi kebebasan beragama dan hak-hak minoritas untuk Integrasi sosial

Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Jakarta bekerjasama dengan Cordaid Belanda telah sukses menyelenggarakan Workshop “Best Practices: Promosi Kebebasan Beragama dan Hak-Hak Minoritas Untuk Integrasi Sosial“ di Hotel Seruni Puncak pada tanggal 5-8 November 2008.

Peserta yang hadir dalam acara ini terbilang bervariasi, sebab panitia mengundang peserta dari berbagai agama, Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha, Konghucu. Mereka di samping berasal dari Jakarta, juga dari daerah-daerah yang menjadi tempat acara FGD sebelumnya, yaitu dari Medan, Poso, Kalimantan, Bali, dan Jawa Barat.

Acara ini dimulai dengan berkumpulnya peserta di sekretariat CSRC UIN Jakarta pada pukul 10.00 wib. Diterima oleh panitia Muchtadlirin dan Sholehudin A. Aziz. Dengan menyewa bus AC eksekutif berkursi 54, peserta dibawa ke Hotel Seruni (arah Taman Safari) melalui jalan yang berliku, melalui perkampungan khas sunda. Peserta yang berjumlah 30 itu, menganggap penginapan mereka akan seperti tempat-tempat biasa sebab jalanan yang mereka masuki tidak meyakinkan kalau di sana ada tempat yang bagus.

Ketika sampai di Gerbang Hotel Seruni 2, kebanyakan peserta yang belum pernah pergi ke tempat itu, terperangah melihat suasana hotel yang indah, dengan pemandangan gunung dan bukit yang hijau terhampar luas di hadapannya seperti sebuah lautan hijau. Di restoran yang dipenuhi kaca itu, peserta melihat sekeliling tebing dan lembah yang hijau dengan beberapa rumah yang dibangun di atasnya.

Acara ini dibuka oleh koordinator program Studi-studi Perdamaian dan Resolusi Konflik (Peace Studies and Conflict Resoluton), Irfan Abubakar di Aula 2 Hotel Seruni 2, di lantai 4. Dia mengatakan, Telah terjadi disintegrasi di daerah yang konfliknya laten. Acara ini, menurutnya diadakan untuk mengetahui praktek-praktek terbaik, agar promosi HAM, kebebasan beragama, hak-hak minoritas tidak menimbulkan konflik, dan melakukannya dengan persuasif.

Acara ini, menurut Irfan Abubakar, berupaya mencari langkah-langkah untuk memilitansi gerakan moderat dengan mengumpulkan teman-teman di sini. Nantinya hasil diskusi dengan peserta, akan menjadi dasar bagi pengembangan modul untuk mengembangkan potensi pemuda yang menjadi agen moderasi dan pegangan untuk berjuang secara damai, tegasnya.

Ridwan Al-Makassary sebagai Ketua Panitia acara ini menyampaikan pendapat bahwa penguatan integrasi sosial sejauh ini telah dimainkan oleh kelompok moderat meski harus jujur diakui belum terbilang signifikan. Pelbagai inisiatif dan praktik mempersatukan komunitas lintas agama melalui dialog antar iman dan kerja sama sosial telah digalakkan baik secara sistematik maupun sporadis.

Meskipun demikian, kelompok moderat tersebut masih bergerak di level elit dan pusat, yang berakibat belum dirasakan kehadirannya di komunitas dan di daerah-daerah secara nyata. Salah satu inti dari kelompok moderat yang diharapkan mengupayakan agenda penguatan integrasi sosial adalah tokoh muda agama sebagai agen bagi penguatan moderasi keagamaan di tingkat komunitas lintas agama. Dalam kerangka ini, agensi dari NGO dan akademisi yang disinari gagasan moderatisme juga berada di jalur penguatan integrasi sosial.

Pembicara yang diundang dalam sesi pengayaan materi sejumlah 6 orang yang dikelompokkan dalam tiga sesi. Setiap sesi, 2 orang yang berbicara. Pembicara pertama, Ahmad Fedyani Saifuddin, yang mengatakan bahwa Integrasi Positifistik adalah ikatan antara komponen bangsa yang pengikatnya dari luar. Pengikatnya adalah kekuasaan pemerintah. Kalau ada konflik di berbagai tempat, militer ikut meredam. Warga negara diposisikan sebagai obyek dalam integrasi ini. Integrasi semacam ini saya istilahkan integrasi sapu lidi. Kalau pengikatnya longgar, akan tercerai berai. Sedangkan Integrasi yang bagus, menurutnya adalah Integrasi Kebudayaan.

Irfan Abubakar menyampaikan materi, bahwa Integrasi sosial dipahami sebagai keadaan kelompok masyarakat yang berbeda dan kepentingan yang berbeda. Ketertarikan antara agama satu dengan lainnya tidak harus melahirkan konversi ke agama lain. Saling tertarik tanpa kehilangan jati dirinya. Tujuan studi CSRC, menurutnya, adalah menggali persepsi kalangan muda moderat lintas agama tentang situasi integrasi sosial di 5 kota untuk Memetakan, dan menggali best practices pada saat ini.

Sesi kedua, Elga Sarapung dari Interfidei mengatakan bahwa lembaganya telah lama melakukan kegiatan-kegiatan antar agama. Dia menyatakan diri sebuah lembaga dialog antar iman yang terbuka terhadap semua agama dan kepercayaan di Indonesia. Tidak hanya 5 agama tapi banyak aliran kepercayaan. Waktu itu, Interfidei juga telah memperjuangkan hak-hak kaum Konghuchu sebelum diakui di Indonesia. Lembaganya mengadakan seminar konfusianisme di Indonesia, dan mengalami banyak halangan.

Selanjutnya, Ahmad Gaus AF menyampaikan bahwa contoh best practices yang dilakukan Paramadina yang dimotori oleh Nurcholish Madjid dengan melakukan ijtihad intelektual, gerakan pembaharuan Islam, terutama pembaharuan teologi sangat mengena ke masyarakat dan menjadi motor gerakan pembaharuan pada tahun 90an. Jangankan nikah beda agama, beda suku saja masih persoalan. Bagi Paramadina secara teologis tidak ada persoalan (al-Qur’an dan Hadis tidak ada yang melarang) tetapi secara sosiologis persoalan. Konsekwesi ada yang pindah agama, sebetulnya dalam DUHAM itu pindah agama itu dibolehkan.

Sesi ketiga, Weng Se Asyuntapura, dari Konghucu, yang mengatakan bahwa Agama merupakan spirit untuk kita dapat menempuh jalan kebenaran dan mampu mengenal takdir kita. Jika kita tulus dan konsekuen melaksanakannya sesuai dengan bimbingan nabi-nabi kita, tentunya manusia sudah sesuai dengan kodrat kita. Negara harus membimbing rakyat-rakyatnya menuju kepada kesucian dan menghormati hak-hak orang lain.

Pembicara kedua dalam sesi ini, Zaenal Abidin, dari YLBHI, menegaskan bahwa Kebebasan beragama dan hak-hak minoritas sudah lebih maju di Indonesia. Cuma kalau dilihat prakteknya dalam konteks keseharian, tidak terjadi di dalam masyarakat. Di masa lalu banyak produk UU yang bertentangan dengan HAM, namun sekarang pada saat sudah ada perubahan kebijakan, UU semacam itu tidak ikut dicabut, misalnya UU No. 1 1965. Dalam batasan bagaimana pembatasan kebebasan beragama diperbolehkan. Wilayah abu-abu inilah yang sering digunakan pemerintah untuk membatasi kebebasan beragama dan sering melanggar HAM.

Pengalaman YLBHI, seperti LBH Jakarta dengan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang terus memperjuangkan kebebasan beragama, core competencynya adalah pendampingan kasus. Misalnya pendampingan hukum untuk Lia Eden oleh LBH Jakarta. Untuk advokasi kebijakan kami juga melakukannya. YLBHI akan melakukan gugatan hukum untuk menuntut UU yang melanggar HAM. Misalnya dengan melakukan judicial review. Dalam konteks integrasi sosial, ada yang bilang hukum adalah alat untuk rekayasa sosial. Jika hukumnya baik, maka dengan sendirinya akan mendorong sistem sosial yang baik pula.

Setelah sesi pengayaan materi yang telah disampaikan, di hari kedua dan hari selanjutnya dilakukan diskusi kelompok sebagai focal point kegiatan workshop ini. Diskusi kelompok pertama tentang Masalah-masalah kebebasan beragama dan hak-hak minoritas di komunitas lintas agama dalam kerangka Integrasi sosial. Diskusi kedua tentang pengalaman kalangan muda moderat dalam mempromosikan kebebasan beragama dan hak-hak minoritas dalam konteks integrasi sosial. Diskusi ketiga tentang kekuatan dan kelemahan pemimpin muda moderat yang efektif untuk menjalankan peran-peran penguatan integrasi sosial di komunitas lintas agama. Diskusi-diskusi ini difasilitasi oleh Rita Pranawati, Ridwan al-Makassary, Sholehudin A. Aziz, Sri Murniati, Junaidi Simun, dan Zainal Abidin Putro.

Diskusi-diskusi dibagi dalam tiga kelompok yang terdiri dari 10 orang. Dengan suasana santai tapi serius, peserta merumuskan pertanyaan dari fasilitator dan dicatat oleh seorang peserta sendiri yang berfungsi sebagai notulen.

Di hari terakhir diadakan kegiatan Evaluasi dan rencana tindak lanjut (RTL). Peserta menginginkan acara ini tidak berakhir sampai di sini, tapi ada tindak lanjut pertemuan-pertemuan untuk melanjutkan hasil diskusi. Diantara usulnya adalah pertemuan lesehan di akhir tahun untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya. Dan membuat komunitas blog bagi peserta, juga peserta akan dijadikan anggota milis yang telah berjalan di damaiforever@yahoogroups.com. (sajad)

Sumber: csrc

  1. Tugas berat menanti kita setelah acara ini kawan2…

    Abrar Aziz
    081225993930

  2. yup betul. integrasi sosial, dengan advokasi kebijakan publik untuk perdamaian lintas agama,dan media yang mengkampanyekan perdamaian

  3. selamat natal dan tahun baru 2009, semoga semua berbahagia…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: